Home / Opini / Langit Oranye Palangka Raya: Ketika Realitas Terasa Seperti Film Fiksi Ilmiah

Langit Oranye Palangka Raya: Ketika Realitas Terasa Seperti Film Fiksi Ilmiah

BLACK POST | Bagi siapa pun yang pertama kali melihatnya, pemandangan ini mungkin disangka sebagai cuplikan dari film layar lebar bergenre dystopian, atau hasil suntingan filter digital yang berlebihan. Langit berwarna kuning pekat, udara yang tampak berat, dan jarak pandang yang terbatas menciptakan lanskap yang mencekam. Namun, ini bukanlah adegan CGI (Computer-Generated Imagery). Ini adalah potret dunia nyata yang sedang disaksikan oleh warga Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Suasana kota di bawah naungan langit pekat tersebut memperlihatkan bagaimana warga harus beraktivitas mengenakan masker pelindung pernapasan demi menghadapi paparan udara yang pekat.

Menembus Kabut Asap Karhutla

Langit oranye yang menyelimuti kota tersebut merupakan dampak parah dari bencana tahunan yang kerap berulang, yaitu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap pekat dari lahan yang terbakar membumbung tinggi, menutupi sinar matahari, dan mengubah siang hari menjadi remang-remang kecokelatan.

Di berbagai sudut kota, ikon wilayah seperti Tugu Bundaran Besar Palangka Raya tampak berdiri megah namun terendam dalam kabut asap yang tebal. Kendaraan roda dua dan roda empat tetap berlalu-lalang di jalanan raya, sementara para pengendara harus mengenakan masker untuk melindungi paru-paru mereka dari bahaya polusi udara mikroskopis.

Sebuah Seruan untuk Kalteng Bebas Kabut Asap

Di tengah kepungan asap yang mencekik, sebuah spanduk besar di pinggir jalan menyuarakan harapan kolektif warga setempat: “Bersama kita bisa mewujudkan Kalteng bebas kabut asap.”

Potret visual ini bukan sekadar rekaman pemandangan alam yang ekstrem, melainkan sebuah pengingat yang kuat mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Bencana kabut asap bukan hanya menguji ketahanan fisik masyarakat yang harus beraktivitas di bawah udara tercemar, tetapi juga menjadi alarm keras bagi semua pihak untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan yang lebih luas di masa depan.

Palangka Raya berdiri sebagai saksi bisu, mengingatkan kita bahwa dampak kerusakan lingkungan berdampak langsung pada kehidupan nyata di bumi kita tercinta.

Sumber: lhinaa Marlina

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *