Home / Lingkungan Hidup / Banjir Sumatra ; Dua Faktor Penyebab Terjadinya

Banjir Sumatra ; Dua Faktor Penyebab Terjadinya

Black Post | Jakarta, hingga berita ini ditulis korban jiwa banjir bandang Sumatra sudah bertambah menjadi 604 , Ada dua faktor penyebab banjir dan longsor yang menerjang Sumatera menjadi begitu parah. Hal itu diungkap oleh dua peneliti Insitute Teknologi Bandung (ITB) yang diunggah dalam akun instragram universitas unggulan di kota Bandung itu.

Menurut Ahli Meteorologi ITB, Muhammad Rais Abdillah, faktor pertama adalah curah hujan di lokasi bencana sangat ekstrem, bahkan mirip dengan level hujan yang menenggelamkan Jakarta di awal 2020 lalu. Langit mengirim air berlebih akibat siklon Tropis Senyar, dan kondisi daratan sumatera yang tidak siap menampungnya.

Melengkapi Rais, pakar geospasial ITB Heri Andreas menjelaskan faktor kedua bahwa banjir dipengaruhi bagaimana air diterima, diserap dan dikelola oleh permukaan bumi.

Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa disebut memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi. Berbeda dengan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi.

Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera disebut bukan sekedar bencana alam biasa.

Pakar meteorologi dari Institut Teknologi Bandung atau ITB, Muhammad Rais Abdillah menilai bencana tersebut disebabkan oleh curah hujan yang sangat ekstrem.

Bahkan menurutnya, curah hujan di Lokasi bencana tersebut mirip dengan level hujan yang menenggelamkan Jakarta pada awal 2020 lalu. Lantas mengapa banjir dan longsor yang terjadi di beberapa wilayah Sumatera begitu parah?

Rais menjelaskan bencana tersebut begitu parah karena langit mengirim air berlebih akibat siklon tropis senyar dan kondisi daratan Sumatera yang tidak siap menampungnya.

Menurutnya, dua kombinasi itulah yang memicu banjir bandang dan longsor di Sumatera baru-baru ini masif. Melengkapi Rais, pakar Geospasial ITB, Harry Andreas menjelaskan, banjir dipengaruhi bagaimana air diterima, diserap, dan dikelola oleh permukaan bumi.

Kawasan dengan tutupan vegetasi alami seperti hutan dan rawa disebut memiliki kemampuan serapan air yang jauh lebih tinggi.

Berbeda dengan wilayah yang telah berubah fungsi menjadi permukiman, perkebunan, atau area terbuka tanpa vegetasi. Ia menjelaskan ketika kawasan tersebut terdegradasi maka kemampuan infiltrasinya menurun signifikan dan menyebabkan peningkatan limpasan permukaan yang jauh lebih besar. Kedua peneliti ITB itu sepakat bahwa manusia tidak bisa mengontrol langit.

Namun sebagai bentuk mitigasi, pemerintah perlu membenahi kembali tata ruang yang berbasis iklim.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengungkapkan rangkaian banjir dan tanah longsor di Sumatera harus menjadi titik balik untuk memperbaiki tata kelola hutan dan lingkungan hidup di Indonesia. Ia menilai perhatian publik yang tertuju pada bencana tersebut menjadi momentum penting untuk melakukan instropeksi atas pengelolaan lingkungan hidup.

Menteri Kehutanan menambahkan situasi ini sejalan dengan pernyataan Presiden Prabowo Subianto bahwa penebangan hutan liar yang tidak terkontrol berkontribusi besar terhadap bencana hidrometeorologi.

(Black Post : dari Berbagai Sumber)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *