Home / Opini / HAMPIR DICULIK MAFIA DEMI HUTAN: KETIKA RAKYAT MENANAM, NEGARA JUSTRU SIBUK BERHITUNG LABA

HAMPIR DICULIK MAFIA DEMI HUTAN: KETIKA RAKYAT MENANAM, NEGARA JUSTRU SIBUK BERHITUNG LABA

Di Megamendung, Bogor, tanah sedang menjerit. Kita sering melihat longsor menimbun rumah warga miskin, atau banjir bandang menghanyutkan masa depan anak-anak. Tapi pernahkah kita bertanya: Kenapa alam semarah ini?

Jawabannya menyakitkan. Tanah ini lelah. Ia dikupas habis-habisan, ditelanjangi demi beton, dan digerogoti oleh izin-izin tambang yang diteken di ruangan ber-AC—jauh dari lumpur yang menenggelamkan rakyat kecil.

Di tengah kegilaan sistematis itulah, ada Ibu Rosita. Dia bukan pejabat. Dia bukan investor. Dia hanya seorang perempuan yang sadar bahwa air bersih lebih berharga dari emas. Namun, saat ia mencoba memulihkan lahan kritis seluas puluhan hektare, ia tidak diberi karpet merah. Ia justru diajak “perang”.

Melawan Arus Birokrasi dan Ancaman Nyata
Rosita pernah nyaris diculik. Ia diintimidasi preman dan mafia tanah. Kenapa? Karena di negeri ini, membiarkan hutan gundul seringkali lebih “cuan” bagi segelintir elit. Lahan kritis dianggap proyek, sementara hutan lestari dianggap penghalang bagi mereka yang di otaknya cuma ada tambang dan eksploitasi. Ironis. Sungguh ironis.

Ketika rakyat berdarah-darah mencegah bencana, negara yang seharusnya menjadi pelindung seringkali absen. Atau lebih buruk: mempersulit. Ribuan bibit pohon Rosita sempat mati karena tanah yang tandus. Tidak ada bantuan darurat turun. Ia berjuang sendirian menjadi “Macan” galak pada perusak, tapi lembut pada alam. Ia membuktikan bahwa birokrasi yang berbelit bisa dipatahkan bukan dengan lobi politik licik, tapi dengan bukti nyata di lapangan.

Panggilan untuk Tidak Diam
Kisah Rosita adalah tamparan keras bagi kita. Kita sering marah di medsos saat bencana datang, menyalahkan hujan, menyalahkan takdir. Padahal, bencana itu adalah hasil dari diamnya kita melihat hutan digadaikan.

Jangan lagi menunggu kebijakan berubah. Jangan menunggu para pejabat itu sadar bahwa nyawa orang miskin tidak bisa ditukar dengan devisa tambang.

Seperti kata Rosita, yang kini hutannya telah berdiri tegak memeluk bumi:
“Jika kau menunggu negara untuk menanam, kau akan mati tenggelam dalam air bah. Mulailah menanam sekarang. Karena pada akhirnya, hanya akar pohon yang akan memelukmu saat bumi berguncang, bukan lembaran izin tambang.”

Mari berhenti berharap pada sistem yang rusak. Mari mulai bergerak. Dan jika kau tak sanggup menanam, setidaknya janganlah kau merusak. Dunia ini bukan milik kita semata. Masih ada generasi berikutnya yang berhak hidup layak. Jangan rampas dan rusak masa depan mereka.

Bagaimana menurut Anda? Apakah nyawa kita memang semurah itu dibanding investasi? 👇

 

By @LhinaaMarlina / Netizen Journalist

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *