BLACK POST | DEPOK | Gerakan Rakyat Semesta (GRS) bersama sejumlah Mahasiswa Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN) menggelar aksi tolak perilaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) saat Car free Day di Jalan Margonda raya. Minggu 5 Juli 2026.
Mereka melakukan penolakan dengan orasi, dan tampak juga spanduk bertuliskan ” JAGA KAMPUNG KITA DARI AZAB AKIBAT LGBT” dan membagikan selebaran yang berisi seputar efek negatif menjadi LGBT kepada masyarakat depok.

Para pejalan kaki peserta CFD yang berolahraga diminta untuk ikut berpartisipasi dengan memberikan tanda tangan dan tanggapannya di spanduk-spanduk yang telah disediakan sebagai bentuk pernyataan sikap terhadap keberadaan LGBT.
Ketua Gerakan Rakyat Semesta (GRS) Anton Sujarwo sekaligus kordinator aksi penolakan LGBT mengatakan Menolak keras segala bentuk perilaku, kampanye, promosi, normalisasi, dan legalisasi LGBT karena bertentangan dengan nilai agama, moral, budaya, dan ketahanan keluarga.

Terkait Polemik unggahan bertema Pride Month oleh salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Suara Mahasiswa (SUMA) Universitas Indonesia (UI), menurut Anton adalah upaya menghadirkan narasi yang berpotensi menormalisasi LGBT di ruang akademik dan ruang publik.
“saya bersama kawan kawan menolak segala bentuk normalisasi, kampanye, maupun upaya legitimasi terhadap perilaku LGBT dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” ujarnya.
Upaya mempromosikan bahkan mendorong legalisasi LGBT merupakan tindakan kriminal yang harus dipidana, karena melanggar norma-norma agama, susila, dan adat-istiadat ketimuran. “kami mengutuk keras segala bentuk penyimpangan seksual seperti suka sesama jenis. Ini tidak bisa dibiarkan, pemerintah harus ambil sikap, begitupun UI,” tegas Anton Sujarwo,
“Bahkan, pak Presiden RI Prabowo Subianto telah mengeluarkan surat bahwa LGBT merupakan ancaman non militer, ini jelas jelas musuh bersama,” tutupnya. (lhps/BP)








