BLACK POST | DEPOK | Polemik isu LGBT di Kota Depok kian memanas. Perdebatan publik semakin tajam usai muncul kajian BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI) soal homoseksualitas.
Pernyataan mahasiswa UI itu memicu respons keras dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok.
Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kota Depok, Budi Lukmanul Hakim, menegaskan pihaknya mendukung langkah Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam mendorong aturan hukum terkait penyimpangan seksual.
Menurut Budi, isu LGBT bukan lagi persoalan kecil. Dia menilai persoalan itu sudah masuk ke ruang sosial yang perlu menjadi perhatian serius masyarakat.
“Kalau sudah masuk ranah hukum, berarti ini sesuatu yang mendesak dan penting untuk segera dilakukan,” kata Budi dalam konferensi pers di kawasan Pancoran Mas, Jumat (3/7/2026).
Budi menyoroti kelompok pemuda sebagai pihak yang dinilai paling rentan terpapar berbagai pengaruh, termasuk penyimpangan seksual.
Karena itu, Muhammadiyah Depok mendorong kegiatan positif bagi generasi muda. Salah satunya lewat aktivitas sosial dan permainan tradisional agar anak-anak tak terus bergantung pada gadget.
Menurutnya, pengawasan keluarga kini menjadi benteng utama di tengah derasnya arus teknologi dan informasi.
Budi juga mengingatkan orang tua agar tidak menganggap isu LGBT sebagai persoalan jauh yang tidak akan menyentuh keluarga mereka.
Dia kemudian melontarkan analogi yang langsung menyita perhatian publik.
“Kalau anjing sama anjing saja paham pasangannya. Ayam juga tahu mana yang betina, mana yang jago,” ujarnya.
Pernyataan itu sontak menjadi sorotan. Ucapan Budi ramai diperbincangkan karena memakai perumpamaan hewan untuk mengkritik fenomena LGBT.
Sebelumnya, BEM Fakultas Psikologi Universitas Indonesia mengunggah konten yang membahas homoseksualitas dari perspektif psikologi.
Dalam unggahan tersebut, BEM Psikologi UI menyebut homoseksualitas sebagai bagian dari keberagaman orientasi seksual dan bukan bentuk penyimpangan.
Pernyataan itu merujuk pada sikap American Psychological Association yang sejak 2008 menyatakan tidak ada bukti ilmiah bahwa homoseksualitas merupakan gangguan mental.
Mereka juga mengajak publik menghormati perbedaan dan menciptakan ruang aman bagi setiap individu untuk mengekspresikan dirinya.
Perbedaan pandangan inilah yang kini membuat polemik LGBT di Depok semakin panas. (red/BP)








