BLACK POST | JAKARTA | Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan di Indonesia kembali berubah menjadi persoalan regional. Asap dari titik panas di Kalimantan dilaporkan bergerak melintasi batas negara hingga mencapai Malaysia, Brunei Darussalam, bahkan Filipina.
ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) sebelumnya telah mengaktifkan Alert Level 3, level tertinggi dalam peringatan kabut asap lintas batas kawasan ASEAN bagian selatan. ASMC menyebut asap sedang hingga pekat berasal dari kelompok titik panas di Kalimantan dan bergerak ke arah utara.
Pada 1 September, ASMC melaporkan plume asap lintas batas telah mencapai sejumlah wilayah Filipina, termasuk Palawan dan Panay. Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Borneo juga dilaporkan berada pada level tidak sehat hingga berbahaya.
Dampak paling serius terlihat di Malaysia. Di Sarawak, indeks polusi udara di Kuching sempat mencapai 407, sementara Serian mencapai 408. Angka tersebut berada pada kategori berbahaya. Kabut asap juga dilaporkan meningkatkan gangguan pernapasan dan mengganggu aktivitas masyarakat.
Dampak terhadap sektor pendidikan juga mulai muncul. Sejumlah sekolah di Sarawak sebelumnya terpaksa menghentikan kegiatan tatap muka dan beralih ke pembelajaran daring ketika kualitas udara memburuk.
Persoalan ini bahkan sudah masuk jalur diplomatik ASEAN. Pada 22 Agustus, Malaysia dan Brunei Darussalam sepakat menggunakan mekanisme ASEAN untuk menangani persoalan kabut asap lintas batas. Malaysia menyatakan akan membawa persoalan tersebut melalui jalur diplomatik di tingkat ASEAN.
Situasi tersebut kembali menempatkan Indonesia dalam sorotan. Kebakaran terjadi di wilayah Indonesia, sementara asapnya dirasakan negara-negara tetangga. Secara geografis, pergerakan asap memang dipengaruhi arah angin dan kondisi atmosfer, tetapi sumber titik panas di Kalimantan membuat penanganan kebakaran di Indonesia menjadi faktor penting dalam mengendalikan dampak lintas batas.
Karena itu, persoalannya bukan lagi sekadar karhutla di dalam negeri. Ketika asap mencapai negara tetangga, persoalan tersebut berubah menjadi isu kesehatan publik, lingkungan, sekaligus diplomasi regional.
Kritik terhadap pemerintah pun menguat: mengapa karhutla terus berulang setiap musim kering, sementara dampaknya kembali dirasakan negara-negara tetangga?
Pertanyaan yang kini dihadapi pemerintah bukan hanya seberapa banyak titik api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga apakah strategi pencegahan dan penegakan hukum sudah cukup untuk mencegah siklus kabut asap lintas batas terulang kembali.
via bbc news









