Home / Opini / TEATER NEGARA: Ketika Tepuk Tangan di Istana Lebih Nyaring dari Jeritan Aceh Tamiang

TEATER NEGARA: Ketika Tepuk Tangan di Istana Lebih Nyaring dari Jeritan Aceh Tamiang

BLACK POST | Jakarta, Desember 2025 — Di bawah sorot lampu yang terang benderang, sebuah adegan ironis sedang dimainkan di panggung kekuasaan. Presiden Prabowo Subianto, sosok nomor satu di republik ini, melontarkan kalimat yang seharusnya menjadi kelakar, namun terdengar getir di telinga publik yang waras.

“Seskab Teddy selalu disambut meriah… Yang Presiden saya,” ujarnya.

Kalimat itu terucap bukan dalam konteks memuji, melainkan menyiratkan sebuah kegelisahan. Sebuah kebutuhan akan pengakuan. Di sana, di pusat kekuasaan, urusan negara seolah direduksi menjadi kompetisi popularitas: siapa yang mendapat tepuk tangan paling keras? Siapa bintang utamanya?

Namun, mari kita matikan sejenak lampu sorot Jakarta dan mengalihkan pandangan ke tempat di mana negara seolah absen: Aceh Tamiang.

Panggung Belakang yang Berlumpur

Saat Presiden sibuk menghitung desibel tepuk tangan untuk dirinya versus ajudannya, ribuan rakyatnya di Aceh Tamiang sedang bertaruh nyawa melawan sisa bencana. Banjir memang sudah surut, tapi ia meninggalkan mimpi buruk baru: lumpur tebal yang mematikan aktivitas.

Di sana, tidak ada karpet merah. Yang ada hanyalah debu kering yang beterbangan, menyesakkan dada warga yang mulai terserang ISPA massal. Tidak ada sambutan meriah. Yang terdengar hanyalah bunyi sekop para relawan lokal dan warga yang bekerja sendirian membersihkan rumah, karena alat berat dan bantuan pusat datang terlambat.

Data di lapangan per Desember 2025 menjeritkan fakta yang mengerikan: 439 sekolah rusak, kelas-kelas terkubur lumpur dan kayu gelondongan. Generasi muda Aceh Tamiang terancam putus akses pendidikan. Logistik tersendat, akses air bersih mati. Di mana “Presiden” yang menuntut validasi itu saat rakyatnya bergelut dengan tanah lempung yang mulai mengeras?

Jebakan “Haus Validasi”

Sikap Prabowo ini mengingatkan kita pada gejala narcissistic leadership. Ketika seorang pemimpin mulai merasa insecure dengan kilau orang di sekitarnya, fokus kepemimpinan bergeser. Energi negara yang seharusnya dipakai untuk crisis management malah tersedot untuk image maintenance.

Ini adalah bentuk “Teater Negara” yang berbahaya. Pemerintah sibuk mementaskan narasi bahwa semua terkendali, bahwa pemimpin mereka dicintai, sementara realitas di lapangan dikesampingkan karena dianggap merusak pemandangan panggung.

Bayang-Bayang Ceaușescu

Sejarah mencatat dengan tinta darah tentang bahaya pemimpin yang terbuai oleh validasi semu. Nicolae Ceaușescu, diktator Rumania, adalah contoh paling nyata. Ia hidup dalam gelembung “Asal Bapak Senang”, dikelilingi pejabat yang selalu tepuk tangan, sementara rakyatnya antre roti di tengah musim dingin yang kejam.

Ceaușescu merasa dirinya adalah “bintang panggung” yang tak tergantikan. Sampai pada 21 Desember 1989 (bertepatan hari ini 36 tahun lalu), saat ia berdiri di balkon untuk pidato—mengharapkan sorak sorai seperti biasa—ia justru disambut oleh cemoohan rakyat yang sudah muak dan lapar. Wajah bingung Ceaușescu saat itu adalah wajah seorang pemimpin yang terlalu lama hidup dalam ilusi, terputus dari realitas penderitaan rakyatnya.

Kita tentu tidak berharap sejarah sekelam itu terulang. Namun, pola psikologisnya memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan: Pemimpin yang lebih peduli pada “siapa yang ditepuki” daripada “siapa yang dilayani”.

Epilog: Turunlah dari Panggung

Bencana di Aceh Tamiang bukan sekadar statistik; itu adalah ujian kemanusiaan dan kehadiran negara. Rakyat tidak butuh presiden yang cemburu pada popularitas ajudannya. Rakyat butuh presiden yang celananya kotor oleh lumpur, yang hadir memberi solusi konkret, bukan sekadar melempar narasi.

Tepuk tangan di ruangan ber-AC itu bisa direkayasa, Pak Presiden. Tapi penderitaan di Aceh Tamiang adalah realitas yang jujur. Hati-hati, karena sejarah mengajarkan: ketika panggung teater negara runtuh, tepuk tangan yang Anda cari bisa berubah menjadi keheningan yang mencekam—atau lebih buruk, teriakan kemarahan.

Sudah waktunya berhenti bermain peran. Rakyat sedang menunggu di lumpur, bukan di gedung pertunjukan.(red/opn/BP)

By Marlina/Netizen Journalist

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *