Home / Opini / Menembus Rawa Papua: Saat Alam Menyediakan ‘Menu Monster’ di Lumbung Pangan Cendrawasih

Menembus Rawa Papua: Saat Alam Menyediakan ‘Menu Monster’ di Lumbung Pangan Cendrawasih

BLACK POST | MERAUKE | Air rawa setinggi lutut itu nyaris tak bergelombang, hanya sesekali pecah oleh langkah kaki seorang pria yang berjalan perlahan di tengah hutan basah pedalaman Papua. Di pundaknya, sebatang bambu panjang melengkung berat menahan belasan ikan air tawar berukuran raksasa yang baru saja diangkat langsung dari alam liar.

Pemandangan seperti ini bukan cerita legenda bagi masyarakat adat di pedalaman Papua Selatan. Di kawasan rawa dan sungai yang masih alami, alam masih menyediakan sumber pangan melimpah tanpa perlu tambak modern, pakan pabrik, atau teknologi mahal.

Rawa yang Menjadi “Lumbung Protein”

Dari hasil tangkapan yang terlihat, sebagian besar ikan merupakan jenis gabus rawa dan lele air tawar berukuran jumbo. Panjang beberapa ekor hampir menyamai lengan orang dewasa, dengan tubuh tebal dan daging padat yang sulit ditemukan di pasar perkotaan.

Pria bertopi hitam dengan tas noken di pinggangnya itu berjalan tenang menyusuri jalur rawa di antara semak dan pepohonan liar. Meski beban yang dipikul tampak berat, langkahnya tetap mantap menuju sebuah perahu lesung tradisional yang sudah menunggu di tepian air.

Setelah sampai, ikan-ikan raksasa itu diturunkan satu per satu ke dalam perahu kayu sempit yang ternyata telah dipenuhi hasil tangkapan sebelumnya. Sebagian masih tampak menggelepar pelan di dasar perahu yang basah.

Semua hasil tersebut diperoleh langsung dari rawa alami tanpa budidaya, tanpa pakan kimia, dan tanpa eksploitasi berlebihan.

Ketahanan Pangan yang Masih Hidup

Di banyak daerah, sumber pangan alami mulai hilang akibat kerusakan hutan dan pencemaran sungai. Namun di sebagian pedalaman Papua, masyarakat adat masih memegang aturan leluhur: mengambil secukupnya dan menjaga alam untuk generasi berikutnya.

Karena itu, rawa dan sungai di wilayah ini tetap menjadi sumber kehidupan utama. Ikan hasil tangkapan tidak semata dijual, tetapi juga menjadi persediaan pangan keluarga dan dibagikan kepada tetangga kampung—tradisi yang masih kuat dijaga hingga hari ini.

Perahu kecil kemudian akan membawa hasil tangkapan menyusuri anak-anak sungai menuju permukiman. Tidak ada rantai distribusi panjang, tidak ada gudang pendingin modern. Alam dan manusia bekerja dalam keseimbangan yang sudah berlangsung turun-temurun.

Kekayaan Papua yang Sesungguhnya

Momen sederhana di tengah rawa ini menjadi pengingat bahwa kekayaan Papua bukan hanya soal tambang dan isi perut bumi. Di balik rimbunnya hutan dan luasnya rawa-rawa, tersimpan sumber kehidupan yang terus menghidupi masyarakat adat dari generasi ke generasi.

Di tempat ketika banyak wilayah mulai kehilangan sumber pangan alami, Papua masih menunjukkan satu hal penting: jika alam dijaga, alam akan terus memberi. (LM/red/BP)

Follow 📸 Angger Papua

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *