Dalam rangka Dies Natalis ke 75 Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), tidak lengkap rasanya apabila kita tidak menyebutkan profil pendirinya dan sekaligus rektor ke 2 ISTN yang menjabat dari 1987 – 1994 .
Prof Dr Ir R Roosseno dilahirkan di Madiun tanggal 2 Agustus 1908. Masa kecilnya di Madiun, dekat lintasan kereta api, menimbulkan kekaguman dan keheranan pada rangkaian kereta api. Ia makin kagum pada kekuatan jembatan di atas Kali Madiun yang tahan dilintasi beratnya rangkaian kereta api.
“Besi yang silang-menyilang itu, kok kuat dilintasi beberapa gerbong kereta api,” cerita Roosseno dalam buku Apa dan Siapa 1985-1986. Kekaguman, yang tertanam dalam hatinya itu, mendorongnya menekuni bidang teknik dan menjadi lulusan terbaik Techniche Hogeschool Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) Mei 1932.
Selesai sekolah, ia berwiraswasta mendirikan Biro Insinyur Roosseno dan Soekarno (Presiden RI pertama) tahun 1933. Tahun 1948 ia pindah ke Jakarta mendirikan kantor konsultan teknik sendiri. Karir di bidang bisnis membawanya menduduki jabatan direktur beberapa perusahaan.
Selama masa pendudukan Jepang ia sempat mengajar dua tahun sampai Indonesia merdeka sebagai asisten profesor bidang geodesi di THS Bandung. Roosseno juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Fakultas Teknik UGM, Yogyakarta dan sempat menjadi Dekan Fakultas Teknik UGM tahun 1945-1949 dan dekan FT UI 1964-1974. Selain itu Roosseno tercatat sebagai guru besar di ITB dan UI dan terakhir menjabat Rektor Institut Sains dan Teknologi Nasional (dulu Sekolah Tinggi Teknik Nasional) Jakarta.
Di bidang politik, ia berkecimpung dalam Partai Indonesia Raya tahun 1950-an dan pernah tiga kali menjadi menteri, sebagai Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga (1953), Menteri Perhubungan (1954), dan Menteri Ekonomi (1955).








