Kumpulan Tulisan Prof Dr Ir R Roosseno Yang Mengukuhkan Posisi Beliau Sebagai Bapak Beton Indonesia
BLACK POST | Jakarta | Sejak sebulan yang lalu Rubrik Jurnal pada laman web www.blackpostistn.com diisi oleh resume dari jurnal ilmiah yang diterbitkan dari studi Prof Dr Ir R Roosseno (Prof. Roosseno) bukan karena semata-mata bernostalgia atau hanya mengisi seri terbitan menjelang Dies Natalis ke 75, Â tapi lebih kepada upaya LPM Blackpost menginisiasi bahwa nama besar Prof. Roosseno tidak hanya karena beliau ahli secara akademis tapi, lebih dari pada itu karya beliau masih sangat relevan dan sesuai dengan tantangan teknis yang ada di lapangan.
Pada era pasca pengakuan kemerdekaan oleh pihak belanda 1949 Prof. Roosseno menitik beratkan pentingnya literasi Teknik dalam bidang Teknik sipil, teori – teori aplikatif yang sudah beliau tulis dari sejak jaman colonial memang sudah bisa di akses secara bebas oleh para mahasiswanya, namun sebagian besar di tulis dalam bahasa Belanda, menyadari pentingnya literasi bagi para calon Insinyur yang akan menggantikan fungsi para engineers dari jaman colonial, semangat nasionalisme Prof. Roosseno memang tidak perlu lagi di ragukan pada bahasan kali ini kita tidak akan membahas secara spesifik karya jurnal ilmiah beliau melainkan membahas Kumpulan tulisan dan buku yang beliau tulis dalam Bahasa Indonesia.
Pada tahun 1954 “Beton Tulang”, PT. Pembangunan, Djakarta 1 Januari 1954 (362 halaman). Buku ini adalah salah satu texbook pertama mengenai beton bertulang yang ditulis dan diterbitkan dalam Bahasa Indonesia. Sebelumnya, Prof.Ir. Roosseno sudah menerbitkan buku mengenai beton bertulang dalam bahasa Indonesia (Juni 1952) berbentuk sekumpulan monogram-monogram dengan contoh-contoh penggunaannya (Soemono : “Monogram Beton bertulang”, Penerbit Djambatan, 1952). Dalam kata pengantarnya Prof. Roosseno menyebutkan antara lain : “Melihat perpustakaan kita pada umumnya dan hal yang mengenai teknik pada khususnya, keadaan betul-betul menyedihkan. Dua tiga tahun lagi pelajar-pelajar kita masuk Sekolah Menengah Teknik dan Sekolah Tinggi Teknik tak akan dapat membaca buku di dalam bahasa asing yang sedikit mendalam. Alangkah baiknya jika Pemerintah memobilisir semua tenaga-tenaga Indonesia untuk memperkaya perpustakaan kita. Hingga sekarang hal tersebut hanya tergantung pada “partikulir inisiatief’. Inilah latar belakang penulisan buku-buku dalam bahasa Indonesia sebelumnya. Isinya mencakup pelajaran dasar mengenai beton Bertulang, yaitu cara – cara pendimensian penampang beton bertulang berdasarkan teori elastisitas klasik. Beberapa monogram yang diambil dari buku Morsch “Die Bemessung im Eisenbeton bau”) melengkapi buku ini. Di samping itu, beberapa contoh perhitungan konstruksi beton bertulang sederhana diberikan di bagian terakhir dari buku ini. Sebagai buku pelajaran pertama bagi calon konstruktur beton, buku ini sangat bermanfaat dan memang dipakai secara luas.
Selanjutnya masuk pada tahun 1959 Prof. Roosseno menulis “Beton Pra-tekan”, Insinyur Indonesia, 1959 No. 4, 5, 6, 7, 9, 12. Beton pra-tekan mulai dikuliahkan oleh Prof. Roosseno sejak menjabat sebagai guru besar dalam ilmu beton bertulang di Bandung dalam tahun 1949. Namun sebegitu jauh, pengetahuan beton pratekan di Indonesia hanya merupakan pengetahuan tertulis/ teoritis. Baru menjelang tahun 1960 beton pratekan benar-benar akan diterapkan di dalam pratekan di Indonesia. Seperti diketahui, tahun 1960-1962 adalah tahun-tahun dimulainya beberapa proyek penting di Jakarta, seperti Kompleks Asian Games, Jembatan Daun Semanggi, Monumen Nasional, Departement Store Sarinah, Wisma Nusantara, dan lain-lain.
Dalam 2 di antara sekian proyek-proyek penting tersebut akan dipakai beton pratekan, di dalam mana Prof. Roosseno akan memegang peranan yang penting. Pertama, Prof. Roosseno akan menjadi konstruktor (perencana) dari bagian platfrom bawah Monumen Nasional yang akan direncanakan dalam beton pratekan dan kedua, Prof. Roosseno akan bertindak sebagai direksi dalam pembangunan Jembatan Daun Semanggi yang juga akan diselenggarakan dalam beton pratekan. Untuk menghadapi peristiwa penting ini, pengetahuan para teknisi Indonesia dalam bidang beton pratekan seyogyanya perlu segera ditingkatkan. Maka dalam rangka inilah, Prof. Roosseno sejak awal sampai akhir tahun 1959 telah menerbitkan ~rangkaian tulisan dalain Insinyur Indonesia berjudul “Beton Pra-tekan,’. Sebagian besar dari tulisan ini telah diambil dari bahan-bahan kuliah yang telah diberikannya selama itu. Dengan demikian, tulisan ini merupakan tulisan pertama mengenai beton pratekan yang ditulis dan diterbitkan dalam bahasa Indonesia dan sangat bermanfaat sebagai bahan pelajaran dasar mengenai beton pratekan. Mengenai platform Monumen Nasional di Lapangan Merdeka, Jakarta dapat dicatat, bahwa dalam proyek ini untuk pert am a kali Prof. Roosseno memperkenalkan sis tern Freyssinet (dari Perancis) untuk memberi praktek dan pada pelat lantai platform ukuran 45 m x 45 m, yang telah dilaksanakan dengan berhasil oleh kontraktor PN Adhi Karya (saat ini Bernama PT Adhi Karya).
Mengenai Jembatan Daun Semanggi di Jalan Jenderal Sudirman Jakarta dapat dicatat, bahwa dalam proyek ini untuk pertama kalinya diperkenalkan sistem BBRV (dari Swiss). Seperti diketahui, berhasilnya Jembatan Daun Semanggi ini adalah juga berkat peranan penting dari Ir. HR Sutami (sekarang Prof.Dr.Ir. HR. Sutami), yang pada waktu itu menjabat sebagai Direktur Utama PN Hutama Karya, kontraktor dari jembatan ini (lihat Sutami: “Perkembangan Beton di Indonesia” Insinyur Indonesia 1962, No. 4, 5, 6). Platform Monumen Nasional dan Jembatan Daun Semanggi dengan demikian merupakan bangunan-bangunan pertama dalam beton pratekan di Indonesia, di dalam mana Prof. Roosseno tel ah menyumbangkan peranannya yang penting.
Sehubungan dengan bidang beton pratekan ini, Prof. Roosseno adalah anggota FIP (Federation Internationale de la Precontrainte) dan pendiri dan ketua pertama Indonesian Group of FIP. Di samping itu adalah juga wakil (representative) dari STUP (Societe Technique de I’Tilesation de Beton Precontrainte).
Pemaparan kumpulan karya beliau diatas tadi memberikan Gambaran kepada kita bahwa Prof. Roosseno sangat mementingkan literasi dan implementasi, hasil pembuktian empiris dari teori disertai pendokumentasian pelaksanaan yang hasilnya di bukukan untuk generasi seterusnya.
(Sumber Foto : Biro Oktroi Roosseno)










