Home / Opini / PAYUNG SAKTI BERNAMA PSN: Ketika Tanah Papua Dijarah Atas Nama Pembangunan Nasional

PAYUNG SAKTI BERNAMA PSN: Ketika Tanah Papua Dijarah Atas Nama Pembangunan Nasional

BLACK POST | Di tanah Papua Selatan, kritik seolah tak pernah mampu menembus tebalnya tembok kekuasaan. Mereka yang datang membawa deretan alat berat dan izin negara ternyata memiliki pelindung yang jauh lebih kuat dari sekadar pagar seng proyek: tiga huruf sakti bernama PSN (Proyek Strategis Nasional).

Di balik label elok “strategis”, hutan-hutan perawan dibelah, tanah ulayat dipagari, dan suara masyarakat adat perlahan dibungkam. Garis polisi bertuliskan “Project Strategis Nasional” kini berdiri angkuh di atas tanah yang dulu diwariskan oleh para leluhur, seakan membuat rakyat adat menjadi orang asing di tanah kelahirannya sendiri.

Kubah Pelindung Pemilik Modal

Status PSN yang di atas kertas seharusnya menjadi instrumen pembangunan kesejahteraan, di lapangan justru bermutasi menjadi kubah pelindung baja bagi para pemilik modal.

Dengan berlindung di balik dalih mulia “ketahanan pangan” dan “investasi nasional”, berbagai dugaan pelanggaran lingkungan, ledakan konflik agraria, hingga persoalan cacat perizinan seolah kehilangan daya gigit hukumnya.

Kedaulatan Adat yang Tergilas

Yang paling menyakitkan dari semua ini bukan sekadar hilangnya pepohonan, melainkan hilangnya kedaulatan adat.

• Ruang musyawarah digantikan oleh represi dan intimidasi.
• Dusun-dusun sagu yang rimbun dikonversi paksa menjadi kawasan industri monokultur.
• Sungai-sungai yang dulu memberi kehidupan dan kejernihan, kini keruh menjadi jalur logistik tongkang perusahaan.

Ketika rakyat adat berani bersuara, mesin propaganda dengan cepat mengecap mereka sebagai “penghambat pembangunan”. Namun, ketika korporasi yang merusak ekosistem, mereka justru dilindungi dan dibela atas nama “kepentingan nasional”.

Dua Mesin yang Bekerja

Di Papua Selatan hari ini, kita sedang menyaksikan dua mesin raksasa bekerja secara bersamaan:

1. Mesin pengeruk sumber daya alam.
2. Mesin kekebalan hukum bagi elit.

Dan di antara bisingnya deru ekskavator serta lalu-lalang truk perusahaan, masyarakat adat hanya bisa berdiri kaku, menyaksikan ruang hidup mereka perlahan lenyap dikoyak zaman.

“Karena di negeri ini, label ‘strategis’ tampaknya selalu jauh lebih berharga daripada keselamatan hutan, tegaknya hukum, dan napas manusia.” (red/opn/BP)

Penulis: Lhinaa Marlhina @fb

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *