Blackpost | Jakarta, pada penutup tahun 2025, Redaksi Blackpost berkesempatan untuk mewawancarai Rektor ISTN, Bapak Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA., Rektor yang secara resmi dilantik pada 3 Oktober 2023 untuk periode 2023-2027, wawancara di lakukan oleh salah satu reporter kami Jeje disela kesibukan Bapak Rektor, Berikut adalah cuplikan wawancaranya.
Cerita dimulai dari jenjang sekolah menengah yang di diselesaikan oleh beliau pada 1977 di SMA N III Malang, beliau menjelaskan bahwa memiliki ketertarikan terhadap bidang kelistrikan, sedari Sekolah Dasar apabila ada kesempatan tugas prakarya selalu mengaitkan dengan bidang kelistrikan, terutama sekali pada suatu ketika pada saat duduk di bangku sekolah Menengah beliau pernah membuat mesin penetasan ayam dengan mengamati produk sejenis yang dijual di sebuah toko hal ini kemudian menjadi salah satu alasan beliau pada tahun 1978 melanjutkan di Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB), semasa duduk di bangku kuliah Bapak Rektor sudah menunjukan ketertarikannya pada dunia akademis, pada tahun 1983 bulan maret selepas menyelesaikan studinya beliau mendapatkan tawaran menjadi Dosen di almamaternya, Memulai karir sebagai calon pegawai – dimana pada saat itu sebagai PNS tahapan sebelum menjadi pegawai tetap harus melalui sebuah proses CAPEG atau calon pegawai sebelum menjadi pegawai penuh– lalu pada tahun 1985, beliau diangkat menjadi pegawai tetap dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikannnya di Prancis di Ecole Centrale de Lyon (ECL), beliau menyelesaikan Pendidikan S2 dan S3 1991, beliau menyelesaikan studi doktor di di Ecole Centrale de Lyon, Perancis, 1991, dengan status kelulusan “Tres Honorable”. Seabrek jabatan telah ia jalani dengan hasil kerja yang selalu mengagumkan. Ya, karena itu tadi, ia tak bisa duduk tenang. Ia adalah penggerak bagi institusi dan orang-orang di sekitarnya, berikut adalah perjalanan singkat karir akademis beliau di dunia Pendidikan maupun bidang professional.
Sekembalinya ke kampus ITB pada tahun 1991, dengan semangat untuk mengembangkan keilmuan dibidang ketenaga listrikan, beliau justru dihadapkan pada era orde baru yang dimana ada kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus, oleh karena itu beliau dipercaya menjadi koordinator Unit Kegiatan Mahasiswa, lalu pada tahun 1993 dipercaya menjadi Pembantu Dekan Bidang kemahasiswaan PD3 di Fakultas Teknologi Industri, pada saat gelombang reformasi akan di mulai pada tahun 1996 beliau mendapatkan kepercayaan untuk memegang jabatan Pembantu Rektor 3 bidang kemahasiswaan di almamaternya, dimana karena posisinya beliau sering berkoordinasi dengan pihak keamanan (polisi dan tentara), pada saat reformasi Meletus di Jakarta 1998, didalam pemikiran beliau bagaimana caranya anak – anak mahasiswa ini dalam keadaan selamat dan tidak sampai jatuh korban, karena jabatan itulah kerja – kerja koordinasi degan pihak polisi dan tentara, menjadi makanan sehari – hari bahkan sampai pada berkoordinasi dengan panglima ABRI. Setelah peristiwa reformasi 1998 beliau didukung oleh ITB berhasil mengumpulkan 176 rektor dari seluruh Indonesia, dari Siah Kuala sampai Cendrawasih, membuat suatu forum yang disebut dengan Forum Rektor.
Setelah gelombang reformasi pada tahun 2001, beliau Kembali ke karir dosennya menjadi Ketua Departemen Teknik Elektro ITB, sebelum reformasi PLN adalah sebagai Perusahaan pemerintah yang menjadi operator sekaligus sebagai regulator, di era pemerintah reformasi sesuai dengan semangat desentralisasi maka dualisme peran PLN ini harus di pisah dimana PLN sebagai Operator dan peran Pemerintah sebagai Regulator, untuk menghindari conflict of Interest, sesuai dengan undang undang ketenaga listrikan yang di sahkan pada 2001 dan diharapkan agar mulai di implementasikan pada 2002 dan berjalan secara baik pada 2003. Pada tahun 2004, Mentri BUMN menunjuk Ketua Departemen Teknik Elektro ITB bersama dengan Kepala Program Studi Ekonomi Universitas Indonesia, menjadi Komisaris dan Direktur di PLN. Pada saat menjadi komisaris PLN inilah beliau menyadari bahwa resiko fraud itu sangat tinggi sekali di PLN, jadi pada tahun 2004 itulah beliau membuat komite management resiko di PLN, dan beliau menjadi ketua pertamanya. Karena intesitas kegiatan di Jakarta sebagai konsekuensi jabatan inilah beliau terpaksa meninggalkan departemen Teknik Elektro di ITB, dan Fokus di PLN.
Pada tahun 2006 beliau diminta oleh Almarhum BJ Habibie menjadi rektor di ITI Serpong, dan menyelesaikan jabatan tersebut pada tahun 2020, meskipun sebenarnya pada 2015 Pihak Yayasan Perguruan Cikini telah meminta beliau untuk melanjutkan karirnya di ISTN namun bapak BJ Habibie belum mau melepas beliau.

Pada Desember 2020 pada saat COVID masih melanda negeri beliau diminta datang oleh Yayasan Perguruan Cikini (YAPERCIK) untuk melihat ISTN dan dimana beliau diminta pendapatnya mengenai proses pengembangan ISTN. Beliau sangat terkesan dan melihat bahwa ada potensi yang luar biasa besar dari kampus ISTN yang semestinya bisa di raih dan memiliki strong point yang tidak di miliki oleh kampus swasta lain di Jakarta, selain dari lanskap yang luar biasa dimiliki oleh kampus kita adalah sebenarnya kampus yang ideal yang menjadi faktor penguat dalam pertumbuhan ISTN kedepan.
Tantantan pertama setelah beliau di lantik sebagai Rektor, adalah membenahi dan membangun budaya mutu, menuju continues improvement dimana internal kita adalah kebiasaan yang salah dalam tata kelola perguruan tinggi yang telah menjadi budaya selama ini, Tantangan kedua adalah memperbaiki hubungan eksternal dengan Alumni dengan kampus, Alumni dengan Yayasan dan yang paling penting antara perguruan tinggi dan DIKTI segenap stakeholder tersebut adalah pihak yang mampu mengangkat ISTN menuju next level dalam pegembangan kedepannya.
Terobosan kedepan yang sedang dicanangkan oleh beliau diantaranya adalah menyesuaikan diri dengan tantangan kedepannya, menurut beliau dengan kita yang sedang berbenah ini justru memberi peluang untuk menyesuaikan diri, model pembelajaran sudah berbeda dengan hal yang terdahulu, mahasiswa dewasa ini sudah lebih tau apa yang mereka inginkan dan keadaan inilah yang menjadi kekuatan ISTN dimana fleksibilitas kampus mampu menghadirkan transformasi budaya akademik melalui pembelajaran digital dan sistem pembelajaran Hybrid antara online dan Offline ini juga dianggap bisa menjadi poin lebih bagi peserta didik, yang membutuhkan waktu lebihnya untuk bekerja dan melakukan kegiatan empowering yang lain.
Selain itu ada program pra-universitas yang bisa diambil oleh adik adik SMA atau SMK, dimana mereka bisa mengambil modul modul Pendidikan, dimana apabila mereka masuk ke ISTN modul – modul tersebut bisa di terjemahkan menjadi SKS, sehingga dapat mempercepat proses studi mereka kelak bila menjadi mahasiswa di ISTN, Selain itu ada juga rencana mendigitalisasikan semua program belajar di dalam sebuah format Video sehingga materi perkuliahan dapat di unduh secara bebas melalui sebuah platform digital, meskipun ISTN bukan penyelengara Pendidikan Jarak Jauh 100% tapi dengan menggabungkan secara rasio yang tepat antara perkuliahan online dengan offline, hal ini diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar secara holistic bagi mahasiswa, dimana pembelajaran digabungkan sharing of experience antara dosen dengan mahasiswa. Lebih jauh Rektor menambahkan agar lulusan ISTN bisa lebih bisa bersaing di dunia industri, maka kedepannya akan dirancang peminatan khusus yang di sambungkan dengan kebutuhan ekosistem industri yang sudah sangat berubah, sebuah pendekatan yang akan bekerja sama dengan praktisi dunia industri terkait yang bisa diberi ruang untuk berkontribusi dalam hal knowledge sharing didalam kampus.
Khusus untuk masalah student government / Kelembagaan mahasiswa di dalam kampus ISTN yang sudah mati suri Selama lebih dari tujuh tahun, Bapak rektor membuka diri agar mahasiswa bisa menyampaikan gagasan, dan beliau bersedia mengarahkan dan memfasilitasi sehubungan kelembagaan mahasiswa didalam kampus, selama hal itu bisa menjadi bekal masa depan untuk mahasiswa, lebih lanjut mengutip dari rektor bahwa dalam Pendidikan tinggi itu tidak boleh ada yang dibatasi pikiran dan gagasan mahasiswa, hal ini sejalan dengan semangat Pendidikan Tinggi dimana melalui Sains dan Teknologi dapat memberikan dampak yang luas kepada masyarakat.

(red BP/Jeje)








