Home / Laporan Khusus / The Jakarta Method ; Antara Chile dan Indonesia

The Jakarta Method ; Antara Chile dan Indonesia

Black Post | Jakarta, 11 September 1973, Jenderal Agusto Pinocet mengerahkan tentara, tank, dan angkatan udara menyerbu istana kepresidenan Lamoneda untuk menggulingkan Presiden Chile yang sah, Salvador Alende. Sama seperti di Jakarta tahun 1965, kudeta Chile yang terjadi pada 1973 itu juga bertujuan menggulingkan presiden yang dianggap dekat dengan golongan kiri.

Kudeta di Chille memiliki kemiripan dengan Jakarta. Bedanya di akhir cerita Soekarno menjadi tahanan rumah. Sementara Salvador Alende memutuskan bundir menggunakan senapan AK47 pemberian sahabatnya, Fidel Castro.

Namun, banyak orang percaya kalau dia ditembak mati. Operasi Jakarta berawal dari kekecewaan gedung putih kepada Central Intelligence Agency atau CIA yang gagal menghentikan kenaikan Alende sebagai presiden. Padahal CIA sudah menghalalkan segala cara untuk menjegal kemenangan Alende. Mereka menempuh berbagai jalan illegal seperti menyebar propaganda lewat wartawan-wartawan berpengaruh, lewat poster juga melalui berita bohong yang menghasut ketakutan masyarakat. Lalu disebarkan berita bahwa kemenangan Alende akan menghancurkan demokrasi Chile. Tapi Alende tetap menang pemilu Chile pada 4 September 1970. Presiden Amerika Serikat saat itu, Richard Nixon sangat geram atas kemenangan presiden kiri ini. Alende membutuhkan empat kali pemilu untuk menjadi presiden. Partisipasi pertamanya dalam pemilu pada 1952, dia kalah di posisi keempat, posisi paling buncit dari semua calon yang ada. Lalu pada Pemilu 1958, dia berada di urutan kedua. kalah dari kandidat partai konservatif liberal. Pada Pemilu 1964, dia kalah dari kandidat Partai Demokrat Kristen. Pada Pemilu 1970, Aliende akhirnya menang dengan dukungan aliansi Partai Komunis Kelas Pekerja dan Partai Radikal kelas Tengah.

Setelah dilantik Alende mulai melakukan restrukturisasi masyarakat Chili dengan haluan sosialisme, namun tetap mempertahankan bentuk pemerintahan demokratis, menghormati kebebasan sipil dan keadilan dalam proses hukum. Dokumen-dokumen pemerintahan Amerika yang dideklasifikasi pada tahun 2001 mengungkapkan peran sentral CIA dalam kudeta ini. CIA menyusun rencana setelah pemerintahan Alelende menjalankan program nasionalisasi perbankan, pertambangan, dan berbagai industri yang mengganggu kepentingan perusahaan-perusahaan Amerika. CIA kemudian menyusun rencana kudeta yang diberi nama Sandi Operation Jakarta. Pemilihan nama sandi ini disengaja karena pola penggulingan di Cile disebut-sebut meniru kesuksesan penggulingan Soekarno dan naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan di Indonesia melalui peristiwa G30S tahun 1965. Operasi Jakarta adalah sebuah nama sandi operasi antikomunis di Amerika Latin untuk menjatuhkan pemerintah kiri dan menghabisi para aktivis komunis.

Operasi Jakarta mengambil inspirasi dari rangkaian peristiwa yang terjadi di Indonesia pada 1965 hingga 1966. Kondisi di mana kekuatan Soekarno melemah, pemenjaraan dan pembunuhan massal aktivis kiri oleh tentara, serta tampilnya Jenderal Soeharto sebagai pemegang kekuasaan. CIA telah melahirkan sebuah doktrin rahasia yang menjadi simbol genosida politik paling mematikan dalam sejarah perang dingin. Doktrin ini diberi nama sandi Operasi Jakarta atau metode Jakarta di lingkaran intelijen Washington. Tragedi berdarah di Jakarta telah dianggap oleh Amerika Serikat sebagai model pemusnahan kaum kiri yang berhasil secara total. Model kekerasan ini menjamin bahwa gerakan reformasi ekonomi dan politik tidak akan pernah bisa bangkit lagi di negara-negara yang menentang kepentingan modal Amerika Serikat. Praktik brutal ini memaksa negara berkembang tunduk pada sistem kapitalis global melalui pemusnahan aktivis secara sistematis. Metode Jakarta merupakan kombinasi kejam antara imperialisme ekonomi dan kejahatan HAM berat yang terstruktur. Eliminasi fisik secara sengaja terhadap aktivis kiri menjadi kunci bagi kemenangan mutlak Washington. Fakta-fakta kejam ini berhasil dibongkar oleh jurnalis investigasi Amerika Vincent Bffins dalam bukunya The Jakarta Method yang terbit tahun 2020. Bevin menggunakan dokumen yang baru dideklasifikasi, riset arsip dan kesaksian saksi mata di 12 negara untuk menyusun laporannya.

Laporan investigatif ini menunjukkan bahwa pemusnahan brutal kaum kiri adalah bagian fundamental dari kemenangan final Amerika Serikat dalam perang dingin. Bevin menegaskan bahwa metode Jakarta adalah strategi pemusnahan bukan sekadar teori politik. Amerika Serikat sangat khawatir nasionalisasi sumber daya alam oleh kaum kiri akan mengancam kepentingan modal besar barat.

CIA disebut secara aktif membiayai rezim militer otor iter untuk menghabisi komunisme regional yang dianggap ancaman besar. Brazil menjadi studi kasus awal yang memperlihatkan benih-benih yang serupa dengan operasi Jakarta. Duta besar Lincoln Gordon dan pemerintah Amerika Serikat sangat ketakutan pada potensi pengambil alihan kekuasaan oleh komunis melalui Presiden Jual Gular. Gordon segera mengirim telegram kepada Pentagon yang meminta dukungan militer rahasia Amerika Serikat jika terjadi perlawanan hebat sayap kiri di Brazil. Washington kala itu telah bersiap mengirimkan pasukan untuk membantu para perencana kudeta militer Brazil di lapangan. Kudeta militer Brazil akhirnya berhasil terlaksana tanpa perlawanan yang signifikan dari kaum kiri yang ditakutkan Amerika Serikat. Presiden Amerika Lindon B. Johnson segera mengakui rezim militer baru tersebut sebagai pemerintahan yang sah, memberinya legitimasi instan di mata dunia. CIA kemudian bertugas memperkuat apparat represif militer di Brazil dan banyak negara Amerika Latin lainnya. Dukungan ini dijalankan di bawah pembenaran palsu untuk memburu habis komunisme dan ancaman subversif di seluruh kawasan tersebut. Chile menjadi target operasi Jakarta yang paling sistematis melalui taktik destabilisasi ekonomi total terhadap Presiden Salvador Alende. Operasi di Chile ini menjadi replica politik paling mirip dengan transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto di Indonesia. CIA segera menyusun rencana penggulingan Alende sejak ia resmi menjabat sebagai presiden.

Dokumen rahasia Amerika Serikat merinci strategi Washington untuk menggunakan militer Chile sebagai alat kudeta rahasia yang tak terdeteksi. Amerika Serikat segera menerapkan kebijakan isolasi diplomatik dan destabilisasi ekonomi yang sangat brutal terhadap pemerintahan Alende. Kebijakan ini sengaja dirancang untuk mencegah Alende menjalankan program reformasinya secara damai atau sukses. Washington memompa dana besar untuk mendukung kandidat pemilu nonsosialis guna memecah belah kekuatan politik alende di parlemen. Gabungan teror ekonomi dan propaganda masif ini sukses menciptakan krisis legitimasi yang memaksa intervensi militer. Kudeta berdarah pada tahun 1973 dipimpin oleh Jenderal Augusto Pinocet berhasil mengonsolidasikan kekuasaan Mejayak, menjadikan dirinya sebagai presiden dan memimpin kediktatoran militer yang kejam. Operasi ini disambut gembira oleh pemerintah Amerika Serikat karena Pinoset dianggap pro akan kepentingan Barat di Chile. Kekejaman massal pasca kudeta Pinocet merupakan bukti nyata dari pembersihan ideologi. Cara yang sama telah terbukti sukses di Jakarta. Dokumen deklasifikasi Amerika Serikat membongkar detail bahwa pejabat Amerika secara cermat melacak pembunuhan massal di Indonesia tahun 1965 sampai 1966 yang melahirkan sandi tersebut. Pejabat Amerika Serikat juga secara aktif mendukung militer Indonesia dengan memberikan uang, peralatan, dan daftar nama orang-orang PKI kepada militer. Fakta ini membuktikan bahwa CIA terlibat aktif dalam genosida politik yang kemudian menjadi strategi efektif dalam upaya menggulingkan kepala negara yang tidak pro Amerika. Hubungan antara Amerika Serikat dan Chile mulai memanas sejak akhir dekade 1960-an. Amerika Serikat sangat khawatir mengenai sentimen sosialis yang meluas dan kebangkitan gerakan kiri di Chile. Kekhawatiran Washington ini dipicu oleh rencana besar nasionalisasi dua perusahaan tembaga terkemuka di Chile. Perusahaan tambang tembaga raksasa tersebut, Anakonda dan Concord dimiliki penuh oleh korporasi yang berbasis di Amerika Serikat. Washington memandang nasionalisasi sumber daya alam ini sebagai ancaman langsung terhadap ekonomi Barat dan kepentingan modalnya secara global. Gerakan nasionalisasi sumber daya di Chile menjadi ancaman ideologis dan eksistensial bagi Amerika Serikat. Amerika Serikat bertekad mencegah Presiden Alende menjalankan programnya atau harus mengakhiri masa kepresidenannya lebih awal. Inilah latar belakang ekonomi utama mengapa Salvador Alende harus dilengserkan oleh CIA. Presiden Sosialis Salvador Alende menjadi target utama operasi Jakarta di benua Amerika Selatan. CIA mulai merencanakan penggulingan Alende segera setelah ia menjabat sebagai presiden melalui jalur demokratis pada tahun 1970. Dokumen rahasia annex NSSM97 secara lugas merinci rencana Washington untuk melengserkan alende menggunakan militer Chile. Dokumen tersebut secara eksplisit menyebut militer Chile sebagai sarana terbaik dan rahasia untuk mencapai tujuan Amerika Serikat. Dokumen Washington merumuskan dua manfaat utama dari kudeta militer ini bagi Amerika Serikat. Pertama, kudeta akan secara cepat mengurangi ancaman marksisme di Amerika Latin secara total. Kedua, Kudeta akan melucuti potensi ancaman Chile terhadap kepentingan politik dan ekonomi Amerika Serikat.

Tujuannya bukan hanya mengganti rezim, tetapi menghapus ancaman ideologi dan ekonomi secara permanen. Pola intervensi Amerika Serikat ini berfokus pada kepentingan bisnis dan korporasi, bukan pada kedaulatan negara. Washington segera menerapkan strategi pemusnahan yang menjadi ciri khas metode Jakarta, yaitu destabilisasi ekonomi dan propaganda politik masif. Amerika Serikat segera memberlakukan kebijakan isolasi diplomatik yang intensif dan destabilisasi ekonomi yang brutal terhadap Chile. Tujuannya sengaja untuk melumpuhkan perekonomian Chile agar Alende terlihat gagal di mata publik dan militer. Strategi ini berhasil menciptakan hiperinflasi dan kekurangan komoditas dasar yang memicu krisis sosial dan legitimasi. CIA menjalankan kampanye propaganda anti alende secara masif di media masa Chile. CIA memberikan dana besar untuk mendukung kandidat pemilu nonsosialis guna memecah belah kekuatan oposisi alende di parlemen. CIA juga mendukung kelompok sayap kanan ekstrem yang taktiknya semakin brutal seiring berjalannya waktu antara 1970 sampai 1973. Strategi ini penting dilakukan agar menghancurkan kepercayaan dan dukungan publik kepada Alende. Selain itu dapat memberikan pembenaran ideologis bagi kudeta dan kekejaman massal yang akan segera menyusul. Identik dengan apa yang terjadi di Jakarta antara tahun 1965 sampai 1966. Pada September 1971, jaringan agen baru CIA di Santiago sudah sepenuhnya beroperasi di lapangan. Jaringan intelijen ini mulai mengeksplorasi berbagai cara untuk menggunakan koneksinya dalam plot kudeta yang mulai berkembang di dalam tubuh militer Chile. Markas CIA dan station di Santiago menerima laporan harian mengenai plot kudeta baru yang dirancang para jenderal. CIA dengan aktif memonitor dan bahkan merancang penggunaan jaringan tersebut untuk mengarahkan rencana penggulingan alende. Langkah ini menunjukkan keterlibatan Amerika Serikat yang sangat mendalam dalam perencanaan internal militer Chile yang menjadi kunci kudeta 1973. Pejabat Cile yang sadar Washington pernah mencari kudeta untuk mencegah Alende menjabat pasti sangat sensitif. Mereka menunggu indikasi dukungan berkelanjutan Amerika Serikat untuk melancarkan kudeta. Kondisi ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat berperan sebagai arsitek tidak langsung yang memfasilitasi setiap langkah menuju kekuasaan Pinocet. Kudeta berdarah pada 11 September 1973 yang dipimpin Jenderal Augusto Pinocet berhasil menggulingkan Aliende. Amerika Serikat segera menyambut baik keberhasilan kudeta ini yang dianggap telah mengakhiri ancaman Marksisme regional. Transisi kekuasaan ini segera diikuti oleh laporan pelanggaran hak asasi manusia yang sangat kejam di bawah rezim militer Pinocet. Kekejaman masal pasca kudeta di Chile merupakan replikasi nyata dari pembersihan ideologi komunis yang pertama kali terbukti sukses di Indonesia. Konsep kudeta Jenderal Pinocet ini memiliki kemiripan yang luar biasa dengan suksesi kekuasaan Jenderal Soeharto terhadap Presiden Soekarno di Indonesia. Kedua operasi ini memiliki persamaan kunci berupa penggulingan Presiden Populis kiri oleh vaksi militer yang pro Amerika Serikat. Kedua, kudeta ini terjadi setelah kampanye destabilisasi ekonomi dan propaganda yang melumpuhkan pemerintahan sebelumnya. Kedua kasus ini juga berhasil menempatkan pemimpin militer Soeharto dan Pinocet sebagai presiden otoriter yang berkuasa selama puluhan tahun. Tujuan utama kudeta Pi nocet sama seperti kudeta Soeharto adalah memusnahkan kekuatan politik kiri secara total dan membuka pintu bagi modal barat. Rezim Pinocchet memulai pembersihan ideologi terhadap para aktivis, mahasiswa, dan serikat pekerja yang proalende. Pembersihan ini bertujuan menghilangkan memori dan infrastruktur perlawanan politik kaum kiri secara permanen. Pinocet sukses mengonsolidasikan kekuasaan sebagai presiden, memimpin kediktatoran militer yang kejam, dan menjamin kepentingan modal Amerika. Operasi di Chile ini menjadi replica politik paling mirip dan paling berhasil dari transisi kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto di Indonesia. Amerika Serikat melihat keberhasilan Pinocet ini sebagai penegasan model operasi Jakarta. Model ini kemudian diinstitusionalisasikan menjadi jaringan kekuasaan otoriter yang disebut sebagai operasi kondor. Tujuan utama operasi kondor ini adalah untuk menghilangkan atau menekan oposisi politik, terutama kelompok-kelompok kiri, geriliawan, dan siapa saja yang dianggap subversif terhadap rezim yang berkuasa baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Metode Jakarta bukanlah sekadar nama sandi, melainkan formula teror yang terbukti efektif untuk kepentingan Amerika Serikat. Formula ini menjadi cetak biru kejam yang dapat diduplikasi untuk menumbangkan gerakan kiri di negara-negara yang menolak sistem kapitalisme Washington. Tujuannya adalah menghancurkan infrastruktur perlawanan politik secara sistematis agar hegemoni modal Amerika Serikat tidak tertandingi. Operasi Jakarta menunjukkan bahwa kemenangan perang dingin diperoleh melalui pembasmian kaum kiri secara brutal, bukan melalui daya tarik ideologi.

Strategi pemusnahan ini bekerja dalam tiga fase taktis yang dirancang dengan perhitungan dingin dan matang. Fase-fase ini wajib melumpuhkan target sebelum pembersihan massal diluncurkan oleh militer setempat. Metode ini mencerminkan deskripsi tajam dari mantan Presiden Ghana yang juga sahabat Soekarno Kuame Enkruma. Kuame menyebut neokolonialisme tidak perlu lagi mengakui apa yang sedang mereka lakukan. Tiga pilar taktis ini memastikan kehancuran total gerakan reformasi sosial dan ekonomi. Fase pertama operasi Jakarta selalu dimulai dengan memblokade keuangan dan destabilisasi ekonomi total. Taktik awalnya adalah memblokir investasi, bantuan, dan pinjaman asing untuk memicu keruntuhan ekonomi total di negara target. Tujuannya adalah membuat pemerintah nasionalis atau sosialis terlihat gagal di mata rakyat. Lalu diciptakan hiperinflasi yang luar biasa dan merusak legitimasi kekuasaan pemimpin negara yang ditarget. Strategi ini menciptakan krisis sosial yang mendalam. Memaksa militer untuk intervensi sebagai penyelamat negara.

Chile di bawah Alende adalah contoh paling jelas dari fase destabilisasi ekonomi ini. Amerika Serikat segera menerapkan kebijakan isolasi diplomatik dan pemutusan bantuan ekonomi secara intensif terhadap Chile. Washington bertujuan melumpuhkan perekonomian Chile agar program sosialis alende tidak dapat dilaksanakan. Senjata ekonomi ini berhasil menciptakan kekurangan komoditas dasar yang parah dan memicu kemarahan publik terhadap pemerintah. Fase kedua melibatkan kampanye propaganda masif yang didanai secara rahasia oleh CIA dan sekutunya.

Tujuannya adalah memfitnah kelompok kiri secara habis-habisan dan menyamakan mereka dengan ancaman subversif yang harus dimusnahkan. Propaganda ini menciptakan kerangka berpikir yang membenarkan kekerasan massal, menanamkan ketakutan dan kebencian di tengah masyarakat.

Di banyak negara Amerika Latin, dukungan finansial diberikan kepada kelompok sayap kanan ekstrem yang taktiknya semakin hari semakin brutal. Kelompok ini berfungsi sebagai pelopor kekerasan, melakukan intimidasi dan serangan untuk meningkatkan polarisasi politik. Strategi ini memastikan bahwa ketika militer mengambil alih mereka memiliki alasan ideologis yang kuat untuk melaksanakan pembersihan. Dengan demikian, kekejaman dilakukan oleh tangan lokal sementara pendanaan dan narasi datang dari Washington. Pilar terakhir atau fase ketiga adalah implementasi kekerasan terorganisir yang menjadi inti dari metode Jakarta itu sendiri, yaitu mas slaughter atau pembersihan massal. Pilar ini mencakup eksekusi di luar hukum, penculikan sistematis, dan penghilangan paksa terhadap aktivis akar rumput. CIA secara aktif membantu meningkatkan aparat represif di banyak negara Amerika Latin. Melatih mereka dalam teknik interogasi dan penindasan yang brutal. Ideologi Jakarta Purge mengajarkan bahwa eliminasi fisik adalah satu-satunya cara untuk memenangkan perang dingin secara  permanen. Metode Jakarta dalam tiga fasenya berfungsi sebagai mekanisme inti dari neokolonialisme yang dicanangkan oleh Washington. Analisis historis menunjukkan bahwa modal asing digunakan Washington untuk eksploitasi, bukan untuk Pembangunan yang dijanjikan. Penghapusan gerakan reformasi dan aktivis kiri melalui genosida politik memastikan tidak ada resistensi terorganisir terhadap penjarahan sumber daya barat. Ini adalah harga berdarah yang harus dibayar oleh dunia ketiga demi dominasi ekonomi global Amerika Serikat.

Operasi Jakarta memiliki motif ganda yang menjadi jantung strategi pemusnahan Amerika Serikat selama perang dingin. Washington bersumpah untuk menaklukkan setiap ancaman ideologi komunis atau sosialis di seluruh kawasan dunia ketiga. Namun tujuan yang lebih pragmatis adalah mengamankan sumber daya alam dari tangan pemerintah yang nasionalis. Doktrin ini memastikan hegemoni politik dan ambisi ekonomi Amerika Serikat berjalan beriringan. Gerakan sosialis dan reformasi di dunia ketiga dipandang Amerika Serikat sebagai ancaman eksistensial yang harus dimusnahkan. Pemimpin populis seperti Presiden Soekarno di Indonesia dan Salvador Alende di Chile menjadi symbol perlawanan terhadap model kapitalis Washington. Mereka mengancam tatanan dunia yang selama ini didominasi oleh kekuatan Barat sejak era pasca kolonial. Ancaman paling nyata bagi korporasi Amerika Serikat adalah nasionalisasi aset dan tambang di negara-negara

berkembang. Kasus nasionalisasi tembaga di Chile dan penguasaan sumber daya alam di Indonesia menjadi alarm bahaya besar bagi Washington. Jika negara-negara ini berhasil, model tersebut akan diikuti oleh seluruh negara dunia ketiga yang baru merdeka. Perlindungan terhadap modal asing dan kepentingan korporasi menjadi agenda prioritas utama CIA. Oleh karena itu, strategi pemusnahan yang diusung Washington harus melampaui  penggantian pemimpin semata. Amerika Serikat menyadari bahwa penghancuran total infrastruktur politik kaum kiri adalah prasyarat bagi keberhasilan ekonomi. Eliminasi fisik terhadap aktivis serikat pekerja dan mahasiswa memastikan tidak ada kekuatan yang berani melawan penjarahan sumber daya alam. Metode Jakarta adalah cara paling efisien untuk membersihkan medan politik secara ideologis dan fisik. CIA menggunakan kekerasan ini sebagai mekanisme inti dari neokolonialisme gaya baru di dunia ketiga. Presiden Ghana Kamen Kruma menjelaskan bahwa modal asing digunakan untuk eksploitasi bukan untuk pembangunan di negara miskin. Kekuatan imperialis tidak perlu lagi mengakui perampasan sumber daya ini kepada publik dunia. Operasi Jakarta telah menunjukkan bahwa penguasaan pasar global dilakukan melalui genosida politik berdarah yang tersembunyi.

Metode Jakarta menandai pergeseran strategi intervensi yang brutal dari Amerika Serikat. Sebelumnya, Washington hanya mendukung kudeta militer untuk mengganti pemimpin populis dengan Jenderal Pro Barat. Setelah peristiwa 1965, strategi ini berevolusi menjadi pembersihan massal yang disengaja terhadap jutaan orang yang dituduh komunis. CIA menyempurnakan strategi pemusnahan ini di Indonesia dan kemudian secara gencar mereplikasinya ke Amerika Latin. Warisan kekerasan ini meluas jauh melampaui korban fisik yang tewas di lapangan eksekusi. Kekerasan operasi Jakarta juga mematikan ideologi dan wacana politik publik di negara-negara yang baru merdeka. Di Indonesia terjadi penindasan berkelanjutan terhadap kosakata politik yang berasosiasi dengan Marksisme dan komunisme selama puluhan tahun.

Pembersihan tersebut tidak hanya membunuh kaum kiri, tetapi juga berhasil membunuh memori dan perlawanan mereka. Tujuan ekonomi Washington terbayar lunas segera setelah rezim otoriter pro Amerika Serikat berkuasa. Dokumen Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta membuktikan Washington memiliki taruhan besar pada keberhasilan rezim Soeharto pasca 1966. Rezim militer Soeharto segera menarik perusahaan-perusahaan Barat kembali untuk menggarap sumber daya alam Indonesia yang melimpah.

Penegakan kediktatoran militer seperti Soeharto di Indonesia dan Pinocet di Chile menjadi jaminan keamanan bagimodal asing untuk bercokol di Indonesia dan Chile. Rezim-rezim otoriter ini memastikan stabilitas politik yang sangat diperlukan bagi kepentingan ekonomi Washington di kawasan.

Mereka menekan setiap gerakan yang menyerukan nasionalisme ekonomi atau keadilan sosial yang mengancam. CIA sukses menciptakan boneka politik yang loyal untuk mengamankan ambisi politik dan modal Amerika Serikat dalam jangka panjang. Metode Jakarta lahir dari genosida politik berdarah yang terjadi di Indonesia antara tahun 1965 hingga 1966. Tragedi ini menargetkan PKI yang pada pertengahan abad itu merupakan salah satu dari tiga basis kekuatan utama negara. PKI adalah partai komunis terbesar di dunia di luar blok Uni Soviet dan Tiongkok.

Kekuatan PKI dipandang oleh Washington sebagai ancaman langsung terhadap hegemoni politik dan ekonomi Amerika Serikat di Asia Tenggara. Tragedi ini dipicu oleh peristiwa yang dikenal sebagai Gerakan 30 September dimana militer Indonesia yang dituduh terdoktrin oleh PKI menculik para jenderal angkatan darat. Peristiwa ini memicu pembersihan antikomunis yang menewaskan setidaknya setengah juta hingga 1 juta orang. Pembantaian ini ditujukan untuk menghancurkan total gerakan kiri dan reformasi ekonomi yang diusung oleh Presiden Soekarno. Soekarno telah menjadi duri dalam daging bagi Amerika Serikat selama bertahun-tahun. Dia adalah tokoh kunci dalam gerakan nonblok yang menentang secara terbuka hegemoni dan kapitalisme Barat. Dokumen CIA menyebut Soekarno bukan hanya sebagai pemimpin sosialis, tetapi sebagai tokoh yang berpotensi menyatukan kekuatan kiri dalam negeri. Sejak lama, Washington telah melakukan berbagai cara untuk melengserkan Soekarno, bahkan mempertimbangkan rencana pembunuhan.

Pembersihan masal pasca 1965 adalah cara Amerika Serikat memastikan kejatuhan total Soekarno dan kebangkitan rezim yang pro Barat. Pembersihan massal orang-orang PKI dan yang dituduh PKI telah membuka jalan bagi kediktatoran militer Jenderal Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Amerika Serikat mengakui mereka memiliki taruhan besar pada hasil dan keberhasilan rezim otoriter Soeharto.

Tujuan ekonomi Washington terbayar lunas karena rezim Soeharto segera membuka sumber daya alam Indonesia bagi korporasi Barat. Salah satunya Freeport. Keterlibatan Amerika Serikat dalam pembantaian 1965 sampai 1966 di Indonesia tercatat dari dokumen-dokumen kedutaan besar Amerika Serikat di Jakarta yang dideklasifikasi menunjukkan kolaborasi langsung Washington dan militer Indonesia. Pejabat Amerika Serikat disebut mengetahui tentang pembunuhan massal tersebut dari laporan harian. Washington bahkan secara aktif mendukung militer Indonesia dalam operasi genosaida politik tersebut. Dukungan Washington bersifat material dan intelijen mempercepat proses eliminasi kaum kiri. Amerika Serikat menyediakan dana, peralatan, dan daftar nama para pejabat komunis kepada militer Indonesia. Daftar nama target ini sangat berharga bagi tentara untuk mempercepat proses eliminasi tanpa meninggalkan jejak tangan Amerika Serikat secara langsung. Bantuan ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa CIA bertindak sebagai kolaborator aktif.

Dokumen rahasia Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa pejabat Washington tahu narasi resmi militer Indonesia mengenai G30S adalah palsu. Militer mengklaim pembunuhan enam jenderal angkatan darat diperintahkan oleh PKI untuk memicu kudeta.

Namun file Kedutaan Besar Amerika Serikat pada November 1965 menyebut pembunuhan tersebut. kemungkinan operasi intra pemerintah di antara vaksi militer sendiri. Duta besar Amerika Serikat saat itu, Marshall Green sadar plot itu dibesar-besarkan tetapi tetap mendukung narasi militer tersebut. Jenderal Soeharto menjadi tokoh kunci yang mengambil alih kekuasaan dan mengonsolidasikan pembersihan ini di tingkat militer dan politik. Tokoh lain yang berperan dalam faksi militer seperti Jenderal Sarwo Edihi Wibowo yang memimpin pasukan RPKAT menjadi motor utama pemberangusan orang PKI dan yang dituduh PKI di berbagai daerah. Peran penting juga dimainkan oleh tokoh sipil seperti Adam Malik yang kemudian menjabat Menteri Luar Negeri dalam memastikan legitimasi internasional. Adam Malik bekerja sama dengan Amerika Serikat untuk membuka kembali Indonesia bagi investasi modal barat pasca 1966.

Metode Jakarta yang lahir dari tragedi Indonesia 1965 adalah model teror yang disengaja untuk mengamankan hegemoni ekonomi dan politik global Amerika Serikat. Sandi ini berfungsi sebagai cetak biru genosida politik yang memfasilitasi pembentukan rezim otoriter pro Amerika Serikat di seluruh Amerika Latin dan Asia.

Penamaan Sandi Jakarta adalah pengingat abadi akan peran Indonesia sebagai tempat di mana strategi pemusnahan kaum kiri global pertama kali dibuktikan efektif. Kisah ini menegaskan bahwa kemenangan perang dingin Amerika Serikat diraih di atas tumpukan mayat dan aliran darah rakyat dunia ketiga, bukan melalui transisi damai.

(sumber foto: sampul Buku the Jakarta Method)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *